Beningkanlah hati sebening embun, yang menari indah
dan tersenyum manja pagi, saat cakrawala terbuka menyikap tabir menghidupkan
fajar.
Mentari pun terpesona dan menebar kehangatan kasih sayang, memeluk diri, menggenggam jemari ...
Terlukis sebuah wajah, di langit biru sebelum senja menyapa, dengan menghadirkan pelangi seusai rintikan tangis bumi menahan haru. Memandang salut akan ketegaran yang menguatkan hati untuk tetap menyimpan sebuah nama.
Bintang pun mulai menggoda untuk tetap meneguhkan hati, di saat jiwa mulai merasa lelah mengayuh sampan kehidupan melewati deburan ombak, yang kadang bisa membuat tenggelam semua harapan.
Kututup mata dan hati. Dan aku menanti sampai datang seorang pangeran yang akan membangunkanku, mengajakku dan memintaku untuk menemani perjuangan hidupnya kelak ... kelak ... dan entah kapan. Aku tetap menantinya datang ...
Mentari pun terpesona dan menebar kehangatan kasih sayang, memeluk diri, menggenggam jemari ...
Terlukis sebuah wajah, di langit biru sebelum senja menyapa, dengan menghadirkan pelangi seusai rintikan tangis bumi menahan haru. Memandang salut akan ketegaran yang menguatkan hati untuk tetap menyimpan sebuah nama.
Bintang pun mulai menggoda untuk tetap meneguhkan hati, di saat jiwa mulai merasa lelah mengayuh sampan kehidupan melewati deburan ombak, yang kadang bisa membuat tenggelam semua harapan.
Kututup mata dan hati. Dan aku menanti sampai datang seorang pangeran yang akan membangunkanku, mengajakku dan memintaku untuk menemani perjuangan hidupnya kelak ... kelak ... dan entah kapan. Aku tetap menantinya datang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar