Jono berpikir keras saat Pak Henri menerangkan teori Hukum Newthon III pada pelajaran Fisika siang itu. Bukan Jono bingung dengan apa yang sedang diterangkan oleh gurunya itu, tapi Jono berpikir acara apa yang akan ia buat sebagai suprise di hari valentine nanti. Valentine tahun ini, yang tinggal satu hari lagi itu, harus menjadi valentine yang romantis untuk sang pacar nanti, Jhenny. Tanggal Valentine yang jatuh tepat pada tanggal 14 Februari itu, bertepatan dengan hari jadian mereka setahun yang lalu. Makanya kali ini Jono berpikir dua kali lipat untuk mensukseskannya supaya Jhenny tambah mencintainya.
“Usulku, kalian jangan sampai ngerayain Valentine di rumah. Bakal hancur rencanamu,” ujar Tino, sahabat sekaligus teman curhat Jono. “Secara, kalo di rumahmu, Jhenny pasti cemberut karena kamu doyan banget ngemil emping yang bikin dia enek. Sedangkan kalau di rumahnya, kamu sendiri yang pasti ogah karena Jhenny gak akan lepas dari kucingnya dan memainkan bulu-bulunya yang mendadak membuat gatal-gatal kulitmu itu,” sambung Tino.
Jono makin pusing ketika kalimat sahabatnya itu terngiang kembali di telinganya. Tanpa sadar ia meremas rambutnya sendiri. “Aarrgh...!” suara kekeasalannya spontan mengganggu Pak Henri yang sedang menuliskan rumus di papan kelas.
Sebuah spidol melayang tepat ke dahi Jono. Dilihatnya Pak Henri melotot padanya seraya memberi isyarat dengan gerakan matanya supaya Jono maju ke depan untuk meyelesaikan latihan soal dari rumus yang baru saja Pak Henri terangkan. Lutut Jono bergetar sedangkan teman-teman sekelasnya malah bernapas lega.
***
Nggak di kelas, nggak juga di rumah. Jono masih terus berpikir untuk besok. Jono ingin memberikan sesuatu yang lebih manis dari cokelat dan juga lebih romantis dari bunga untuk Jhenny. Tiba-tiba ia tersenyum dengan ide yang melintas di kepalanya. Jono merasa idenya cemerlang dan bercahaya seperti lampu neon yang tiba-tiba menyala. Triiing!
Akhirnya malam itu ia berusaha membuat sebuah puisi hasil karyanya, walaupun sama sekali belum pernah membuat puisi tapi Jono berusaha keras demi Jhenny tercinta.
“Hhh ...” keluhan sempat keluar dari mulut Jono. Beberapa remasan kertas terbuang di sisi meja belajarnya. Bagitu wajah Jhenny terbayang di otaknya, semangatnya kembali menyala. Jono kembali duduk tegak dan fokus. Meremas, memutar, menggulung dan menendang otak supaya puisi itu selesai malam itu juga meskipun hanya beberapa kata, yang penting romantis sampai akhirnya puisi itu jadi tepat pada jam dua pagi.
***
Tepat pada tanggal 14 Februari , Jono melancarkan aksinya. Pagi sekali dia datang ke sekolah dan sembunyi-sembunyi ke kelas lalu menyimpan puisi buatannya itu di kolong bangku Jhenny. Ia mengecup kertas itu dengan mesra sebelum menyimpannya lalu bergegas kembali keluar kelas dan berakting seolah ia baru saja datang ke sekolah hari itu.
“Jono!” terdengar teriakan Jhenny memanggilnya di koridor menuju kelas. Jono berbalik lalu tersenyum sumringah saat Jhenny menjajari langkahnya.
“Sayang, hari ini kita ke rumahku, yuk. Ngerayain hari jadian kita,” ujar Jhenny membuat langkah Tono terhenti.
“He? Ke rumahmu? Hm ... anu ... anu ... Jhen ... aku gak bisa ....” Tono mendadak gagap membayangkan beberapa ekor kucing yang ada di rumah Jhenny.
“Lho, kok. Kenapa? Kamu kok gitu?” tanya Jhenny yang mulai memasang wajah cemberutnya. “Jangan pikir kalau aku mau diajak ke rumahmu yang penuh toples berisi emping, ya!” sambungnya sambil berlari masuk ke kelas.
Benar kata Tino, selama ini, hubungan mereka tidak pernah akur kalau pacaran di rumah Jhenny atau pun di rumah Jono. Jadi sebaiknya mereka pacaran di luar rumah saja. Jalan-jalan ke mana gitu. Meski rada membuat kantong kempes buat acara makan di luar, tapi itu lebih baik ketimbang mereka pacaran yang berakhir dengan ribut hanya gara-gara emping dan kucing.
“Jhen ... tunggu, Jhenn ...!” Jono berteriak tapi tak berusaha mengejar. Hatinya malah tersenyum membayangkan Jhenny yang cemberut bakal tiba-tiba tersenyum ketika menemukan selembar kertas berisi puisi lalu membacanya. Jono membayangkan ekspresi Jhenny saat mengatakan, “Jono, so sweet ...!” seraya memeluk dan memaafkannya karena tidak bisa valentinan di rumah Jhenny.
Saat Jono memasuki kelas dengan tampang yang dibuat sok cool, dilihatnya Jhenny malah memalingkan muka darinya. Mukanya makin masam dan muram. Jono nggak berani bertanya, ia takut kalau puisinya ternyata nggak meluluhkan hati Jhenny dan itu akan membuatnya lebih depresi dibanding disuruh memegang kucing.
Sepanjang hari itu, saat teman-teman mereka bertukar-tukaran cokelat merayakan valentine, Jhenny dan Jono malah saling diam. Jhenny malah asyik tukeran cokelat sama teman-teman se-gang-nya yang lagi jomblo. Jono makin bete sekaligus bingung melihat kelakuan ceweknya itu. Tapi, tak berani juga ia mendekati Jhenny karena takut Jhenny makin ngamuk.
Pulang sekolah Jhenny menarik tangan Jono ke belakang kelas. Hati Jono mendadak riang. Ternyata tadi di kelas Jhenny cuma berakting mencuekannya, pikir Jono.
Di belakang kelas. Jhenny tetap memasang tampang cemberut dan menyerahkan selembar kertas. “Kita gak bisa nge-ping lagi.” Jono bengong. ‘Jhenny kenapa, sih?’ tanyanya dalam hati sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
“Maksudmu, cinta kita gak lagi merah jambu?” tanya Jono. Jhenny tak menjawab, ia pergi begitu saja meninggalkan Jono sendirian dalam kebingungannya.
Jono pasrah ketika Jhenny memberikan kembali puisi yang ia buat dengan perjuangan semalam suntuk.
Jono kembali membaca puisinya. Jono bingung. Kenapa puisi dibalikin dan Jhenny terlihat begitu marah padanya. ‘Apa yang salah dengan puisi ini?’ pikirnya. “Valentine sudah berlalu. Bagaimana dengan cintaku?” tanya Jono sambil meremas kertas itu dan membuangnya ke belakang dan berlalu dengan lemas.
Anak-anak sekelas yang usil mengintip adegan Jhenny dan segera memburu kertas itu lalu menepuk jidat masing-masing setelah membacanya.
Untuk mawar merahku yang tumbuh di hatiku
Betapa hati bahagia saat pertama kali melihatmu
Seperti aku melihat emping yang baru saja dibelikan ibu
Begitu menggodaku untuk langsung menyantapnya
Emping adalah dari melinjo
Dan dirimu juga bagai melinjo montok
Semoga suatu saat kamu juga menyukai emping
Dan menjauhi kucing yang membuatku merinding
Aku akan selalu mencintaimu di hari valentine ini
Walau harus dengan cara membuat kepala kucingmu menggelinding
Karena kucing dan emping adalah dua hal yang berbeda bagai langit dan bumi.
Jono berpikir keras saat Pak Henri menerangkan teori Hukum Newthon III pada pelajaran Fisika siang itu. Bukan Jono bingung dengan apa yang sedang diterangkan oleh gurunya itu, tapi Jono berpikir acara apa yang akan ia buat sebagai suprise di hari valentine nanti. Valentine tahun ini, yang tinggal satu hari lagi itu, harus menjadi valentine yang romantis untuk sang pacar nanti, Jhenny. Tanggal Valentine yang jatuh tepat pada tanggal 14 Februari itu, bertepatan dengan hari jadian mereka setahun yang lalu. Makanya kali ini Jono berpikir dua kali lipat untuk mensukseskannya supaya Jhenny tambah mencintainya.
“Usulku, kalian jangan sampai ngerayain Valentine di rumah. Bakal hancur rencanamu,” ujar Tino, sahabat sekaligus teman curhat Jono. “Secara, kalo di rumahmu, Jhenny pasti cemberut karena kamu doyan banget ngemil emping yang bikin dia enek. Sedangkan kalau di rumahnya, kamu sendiri yang pasti ogah karena Jhenny gak akan lepas dari kucingnya dan memainkan bulu-bulunya yang mendadak membuat gatal-gatal kulitmu itu,” sambung Tino.
Jono makin pusing ketika kalimat sahabatnya itu terngiang kembali di telinganya. Tanpa sadar ia meremas rambutnya sendiri. “Aarrgh...!” suara kekeasalannya spontan mengganggu Pak Henri yang sedang menuliskan rumus di papan kelas.
Sebuah spidol melayang tepat ke dahi Jono. Dilihatnya Pak Henri melotot padanya seraya memberi isyarat dengan gerakan matanya supaya Jono maju ke depan untuk meyelesaikan latihan soal dari rumus yang baru saja Pak Henri terangkan. Lutut Jono bergetar sedangkan teman-teman sekelasnya malah bernapas lega.
***
Nggak di kelas, nggak juga di rumah. Jono masih terus berpikir untuk besok. Jono ingin memberikan sesuatu yang lebih manis dari cokelat dan juga lebih romantis dari bunga untuk Jhenny. Tiba-tiba ia tersenyum dengan ide yang melintas di kepalanya. Jono merasa idenya cemerlang dan bercahaya seperti lampu neon yang tiba-tiba menyala. Triiing!
Akhirnya malam itu ia berusaha membuat sebuah puisi hasil karyanya, walaupun sama sekali belum pernah membuat puisi tapi Jono berusaha keras demi Jhenny tercinta.
“Hhh ...” keluhan sempat keluar dari mulut Jono. Beberapa remasan kertas terbuang di sisi meja belajarnya. Bagitu wajah Jhenny terbayang di otaknya, semangatnya kembali menyala. Jono kembali duduk tegak dan fokus. Meremas, memutar, menggulung dan menendang otak supaya puisi itu selesai malam itu juga meskipun hanya beberapa kata, yang penting romantis sampai akhirnya puisi itu jadi tepat pada jam dua pagi.
***
Tepat pada tanggal 14 Februari , Jono melancarkan aksinya. Pagi sekali dia datang ke sekolah dan sembunyi-sembunyi ke kelas lalu menyimpan puisi buatannya itu di kolong bangku Jhenny. Ia mengecup kertas itu dengan mesra sebelum menyimpannya lalu bergegas kembali keluar kelas dan berakting seolah ia baru saja datang ke sekolah hari itu.
“Jono!” terdengar teriakan Jhenny memanggilnya di koridor menuju kelas. Jono berbalik lalu tersenyum sumringah saat Jhenny menjajari langkahnya.
“Sayang, hari ini kita ke rumahku, yuk. Ngerayain hari jadian kita,” ujar Jhenny membuat langkah Tono terhenti.
“He? Ke rumahmu? Hm ... anu ... anu ... Jhen ... aku gak bisa ....” Tono mendadak gagap membayangkan beberapa ekor kucing yang ada di rumah Jhenny.
“Lho, kok. Kenapa? Kamu kok gitu?” tanya Jhenny yang mulai memasang wajah cemberutnya. “Jangan pikir kalau aku mau diajak ke rumahmu yang penuh toples berisi emping, ya!” sambungnya sambil berlari masuk ke kelas.
Benar kata Tino, selama ini, hubungan mereka tidak pernah akur kalau pacaran di rumah Jhenny atau pun di rumah Jono. Jadi sebaiknya mereka pacaran di luar rumah saja. Jalan-jalan ke mana gitu. Meski rada membuat kantong kempes buat acara makan di luar, tapi itu lebih baik ketimbang mereka pacaran yang berakhir dengan ribut hanya gara-gara emping dan kucing.
“Jhen ... tunggu, Jhenn ...!” Jono berteriak tapi tak berusaha mengejar. Hatinya malah tersenyum membayangkan Jhenny yang cemberut bakal tiba-tiba tersenyum ketika menemukan selembar kertas berisi puisi lalu membacanya. Jono membayangkan ekspresi Jhenny saat mengatakan, “Jono, so sweet ...!” seraya memeluk dan memaafkannya karena tidak bisa valentinan di rumah Jhenny.
Saat Jono memasuki kelas dengan tampang yang dibuat sok cool, dilihatnya Jhenny malah memalingkan muka darinya. Mukanya makin masam dan muram. Jono nggak berani bertanya, ia takut kalau puisinya ternyata nggak meluluhkan hati Jhenny dan itu akan membuatnya lebih depresi dibanding disuruh memegang kucing.
Sepanjang hari itu, saat teman-teman mereka bertukar-tukaran cokelat merayakan valentine, Jhenny dan Jono malah saling diam. Jhenny malah asyik tukeran cokelat sama teman-teman se-gang-nya yang lagi jomblo. Jono makin bete sekaligus bingung melihat kelakuan ceweknya itu. Tapi, tak berani juga ia mendekati Jhenny karena takut Jhenny makin ngamuk.
Pulang sekolah Jhenny menarik tangan Jono ke belakang kelas. Hati Jono mendadak riang. Ternyata tadi di kelas Jhenny cuma berakting mencuekannya, pikir Jono.
Di belakang kelas. Jhenny tetap memasang tampang cemberut dan menyerahkan selembar kertas. “Kita gak bisa nge-ping lagi.” Jono bengong. ‘Jhenny kenapa, sih?’ tanyanya dalam hati sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
“Maksudmu, cinta kita gak lagi merah jambu?” tanya Jono. Jhenny tak menjawab, ia pergi begitu saja meninggalkan Jono sendirian dalam kebingungannya.
Jono pasrah ketika Jhenny memberikan kembali puisi yang ia buat dengan perjuangan semalam suntuk.
Jono kembali membaca puisinya. Jono bingung. Kenapa puisi dibalikin dan Jhenny terlihat begitu marah padanya. ‘Apa yang salah dengan puisi ini?’ pikirnya. “Valentine sudah berlalu. Bagaimana dengan cintaku?” tanya Jono sambil meremas kertas itu dan membuangnya ke belakang dan berlalu dengan lemas.
Anak-anak sekelas yang usil mengintip adegan Jhenny dan segera memburu kertas itu lalu menepuk jidat masing-masing setelah membacanya.
Untuk mawar merahku yang tumbuh di hatiku
Betapa hati bahagia saat pertama kali melihatmu
Seperti aku melihat emping yang baru saja dibelikan ibu
Begitu menggodaku untuk langsung menyantapnya
Emping adalah dari melinjo
Dan dirimu juga bagai melinjo montok
Semoga suatu saat kamu juga menyukai emping
Dan menjauhi kucing yang membuatku merinding
Aku akan selalu mencintaimu di hari valentine ini
Walau harus dengan cara membuat kepala kucingmu menggelinding
Karena kucing dan emping adalah dua hal yang berbeda bagai langit dan bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar