Minggu, 16 Februari 2020

Review : MEMORI JANJI ES KRIM

Memori Janji es Krim



Kemarin ketika ada kurir paket nganterin sebuah bungkusan, hampir aja lupa, perasaan udah ga ada paket yang lagi aku tunggu lagi, deh.
Pas dilihat pengirimnya.... Ooww...! Aku tau dari siapa ini bukunya, girang dong, bukunya udah mendarat di rumah.

Antusias banget buat baca buku ini.
Langsung, deh, konsentrasi baca hingga beberapa kali mengabaikan perut yang berbunyi minta diisi (abaikan...) meski beberapa kali kejeda sama ngedit video buat tayang di Youtube. Dan itu adalah kesalahan, cerita di Memori Janji Es Krim menyedot setengah pikiran aku, Ngedit video nggak konsentrasi, soalnya ada yang ribut dalam pikiran,
“Itu si Mia kenapa mau ngelakuin apa yang disuruh oleh Karin?”
“Itu si Dudi nggak tau gitu bagaimana perasaan Mia sesungguhnya berada di posisi seperti itu?”
Konsentrasi ngedit Youtube juga sempat eror karena ngebayangin kalau si Gary lebih ganteng dari Orlando Bloom. Aduh... seganteng apa jadinya?!
Intinya, ini novel bikin geregetan kalau bacanya setengah-setengah.

Aku suka banget dengan cara menulis dari penulis novel Memori Janji Es Krim ini.
Nuansa romantis dan diselingi komedi tercipta mulus, kadang bikin aku senyum-senyum sendiri. Nggak boleh ngakak nanti orang rumah suka protes, “Ngapain ketawa sendiri? Makan dulu, gih!”. Iya, mamah aku mah suka gitu orangnya kalau lihat aku ketawa-ketawa sendiri. Jutek gitu kesannya tapi perhatian, mirip mamahnya Mia ga, ya...? Atau lebih jutek siapa? Atau jangan-jangan lebih jutek mamah kamu? Hihihi...
Eits! Jangan prasangka dulu sebelum baca bukunya.

Novel romantis dengan ketebalan 366 halaman itu, memberikan kita banyak sekali pelajaran untuk menghadapi hidup ini. Terhadap orangtua, saudara dan teman.
Bahasanya mudah dimengerti, walaupun ada beberapa yang agak susah dipahami, mungkin karena keterbatasan olahan otak aku aja kali, ya.

Kalimat yang aku suka, ketika Mia berkata pada Gary, “Cinta memang datangnya nggak diduga, kan? Pasti dari pertemuan-pertemuan itu akhirnya tumbuh cinta diantara kalian?” (hal. 162)

Memori Jani Es Krim, hal. 162


Teh Nimas juga mulus menggabungkan konflik-konflik yang dialami tokoh. Jadi walaupun tiap tokoh punya masalah masing-masing, rasanya ceritanya nggak loncat sana-loncat sini. ngalir banget. Walaupun masih tetap ada pertanyaan dalam hati untuk awal-awal bab, “Benarkan Mia itu lulusan Hukum?! Masa sebego itu?” tapi terlepas dari itu makin ke sini makin ke ending cerita kebangun dengan bagus banget, dan ketika konfliknya klimaks, bikin “Dhuar! Mati kau!” Aku langsung memposisikan diri sebagai Karin (hahaha... nggak sekejam gitu juga kali aku mah).

Namun walaupun kehidupan Mia kayak naik Roll Coaster, endingnya adalah menjadikan Mia sebagai sosok yang keren di mataku soalnya hampir mirip aku banget yang selalu akhirnya berpikiran, “Ya udahlah! Gue pasti mampu. Dan ini adalah hidup gue.” Makanya aku juga keren.
Di endingnya, Karin juga keren, Gary juga keren, Dudi juga keren, penulisnya juga keren, ceritanya juga keren. Semuanya keren. Tak terlepas juga dari editornya yang keren :D

“Jika terbiasa hidup dipenuhi rasa iri atas ketidakberuntungan yang kita miliki, terutama karena di sebelah kita ada seorang yang sangat sempurna sehingga menyedot semua perhatian di sekitar kita dan menjadikan kita nggak lebih dari bayang-bayang nggak penting, pasti bisa memiliki empati yang sama seperti yang aku miliki sekarang ...” (hal. 220)
Kenapa Mia berbicara seperti itu coba?

Memori Janji Es Krim, hal. 220


Yang penasaran dengan sosok Mia, Karin, Dudi, Gary, Desvita Doddy (siapa lagi ini?), HARUS baca novel Memori Janji Es Krim yang ditulis Teh Nimas Aksan ini. Karena kamu juga akan merasa deg-degan sendiri dengan bagian cerita sebelum benar-benar mencapai ending.

Dan inget, jangan pernah sembarangan mengucap nazar kalau gak mau sial kayak Mia.


Wanda Kania
IG : @wandakaniawati
youtube.com/c/Wandakania


Selasa, 13 Agustus 2019

Pembuatan SIM pertama kali

Apa yang selalu membuat aku deg-degan nggak karuan kalau bertemu polisi?

Jawabannya adalah takut ditangkap.

Hah?!

Ditangkap?

Iya. Aku takut ditilang. Ditilang saat naik motor membuat aku trauma kalau melihat polisi.

Dulu pernah ditilang sebab lampu motor depan padam. Padahal saat itu sedang terang benderang dengan terik matahari yang menyengat (hipebola banget ini. Hihihi...).

Tetap aja trauma walaupun saat itu posisi aku juga sebagai penumpang alias orang yang dibonceng.
Sampai sekarang, setiap aku melihat polisi di pinggir jalan-walaupun itu hanya yang mengatur lalu lintas- tetap saja was-was nggak karuan. Apalagi kalau saat bawa motor sendiri. Kalau sekarang alasannya jelas, Aku takut ditilang karena aku nggak punya SIM. Hahaha...

Nah, daripada kalang kabut terus ketika di jalan kalau melihat polisi, akhirnya dibuatlah keputusan yang sangat berat. Aku HARUS punya SIM.

Kok, jadi keputusan berat?

Ya, iyalah..., secara aku pasti bakal nemuin banyak polisi di polrestabesnya. Wkwwkwk...
Jadi singkat cerita datanglah aku ke polrestabes Bandung. Didampingi suami, dong. Karena kalau sendiri takut pingsan. Apa, siiihh...?

Datang jam 7 pagi, karena dibuka pendaftaran jam 8 pagi. Sebelum jam 8 udah banyak banget yang antri.

Begitu pintu dibuka, ini urutan antriannya per loketnya.

-          Loket 1 : dikasih formulir pendaftaran. Dan sebelumnya kita harus nyiapin surat keterangan sehat dari dokter dan juga fotocopy KTP yang berlaku.

-          Loket 2 : bagian foto, cekrek-cekrek tanpa boleh foto alay, trus cetak sidik jari.

-          Loket 3 : lupa ini bagian apa. Maafkan... :D

-          Loket 4 : Tes komputer, isinya soal-soal peraturan rambu lalu lintas gitu, deh.

-          Loket 5 : Simulator.

-          Loket 6 : bayar Rp. 100.000 untuk SIM C dan Rp. 125.000 untuk SIM A.

-          Loket 7 : isi lagi formulir lalu antri lagi buat cetak.

Udah deh selesai.

Nah, mulai sekarang, berani deh ke jalan naik motor tanpa harus deg-degan.
Buat SIM juga nggak semenegangkan bayanganku dari awal, kok.

Iya, awalnya aku takut dibentak-bentak kalau salah atau apapun itu yang bakal membuat aku gemetaran ketakutan.

Mungkin, aku aja yang orangnya parnoan kali, ya. Padahal sebenarnya bapak-bapak polisi itu baik-baik, kok.

Ada yang udah bisa naik motor dan sering antar jemput anak ke ke sekolah kayak aku, namun belum punya SIM?

Ayo bikin, Mom! Lebih aman dan lebih murah dibanding kita ditilang berkali-kali.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 18 September 2018

Resep Es Krim Home Made, Murah, Mudah, dan Lembut

Siapa yang tidak suka es krim? Aku acungkan tangan duluan. Lho?!
Iya, aku nggak suka yang dingin-dingin ada esnya gitu.
Lalu kenapa aku ngasih resep ini?
Ya..., nggak ada apa-apa, sih. Cuma berbagi hasil beberapa kali percobaan aja. Siapa tau ada yang mau nyoba dan akhirnya non unfaedah (bahasa apa lagi ini?) 😂😂😂

Yup! Diawali dari kelakuan 'Na yang sering banget minta dibeliin es krim, akhirnya emaknya inisiatif buka google buat nyari resep es krim. Beberapa kali coba jadinya gagal terus. Setelah beberapa kali percobaan dengan menakar bahan sendiri, akhirnya dapatlah takaran yang buat aku mah segitu aja udah pas. Lagian 'Na juga nggak komplain bilang nggak enak. Yes! 😊😊😊
Langsung aja ini bahan-bahan yang aku pakai:
4 sachet SKM (boleh putih, boleh coklat)
400 ml susu UHT (bebas mau rasa apa juga, tergantung mau bikin es krim rasa apa. Aku biasanya rasa coklat)
2 sendok teh kunjung tepung maizena
2 sendok bebek gula putih
Telur 2 butir (kata orang harusnya diambil kuningnya aja, aku mah digebrusin semua)
1 sendok teh SP (ditim dulu)

Cara buatnya simpel:
- Semua bahan -kecuali SP-dicampur aduk di panci. Setelah menyatu, panaskan sambil terus diaduk sampai meletup-letup.
- Matikan kompor, setelah bahan kembali ke suhu normal masukin ke freezer sampai beku.
- Keluarkan dari freezer, kerok pakai garpu atau sendok, pindahkan ke baskom yang agak besar lalu mixser pakai kecepatan rendah dulu sampai hampir lembut.
- Masukan SP yang sudah ditim
- Mixed kembali 15-20 menit dengan kecepatan tinggi, pokoknya sampai lembut banget. Bahan akan mengembang 2-3 kali lipat.
- Masukan freezer lagi sampai beku
- Bersorak lah dan katakan "Horray..., Es krim ku jadi!" (buat yang berhasil aja. Karena kadang walaupun bahan dan caranya sama, beda tangan suka beda hasil.) 😊😊😊

Selamat Mencoba
😍😍😍

Sabtu, 12 November 2016

Anak Rewel vs Konsumen Rewel, Enak Mana?

Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga murni tanpa kesibukan selain menjaga dan mengurus rumah serta isinya adalah salah satu cita-cita saya sebelum menikah. Merasakan bagaimana rasanya pernah kerja: capek, tekanan batin selalu ada-entah itu karena masalah sesama teman kerja ataupun masalah dengan atasan-.

Oke, fix. Sesudah nikah, nggak mau lagi kerja. Full ngurus anak di rumah karena sudah terdoktrin pula kalau sekolah pertama buat anak itu adalah seorang Ibu di rumah. Nggak mau sekalipun kalau nanti anak lepas dari pengawasan emaknya (walaupun pernah beberapa kali anak hampir hilang saat emaknya kalap di toko buku. Hahaha…, maafkan.)


Hal itu pula, tekad saya menyiapkan anak perempuan saya untuk menjadi seorang ibu hebat kelak. Berharap tidak seperti saya yang sering kelepasan amarah hingga membuat anak langsung menunduk sedih.

Minggu, 30 Oktober 2016

Banyak Rejeki dari 'Seru'nya berburu buku di Gramedia Big Sale (Part 2)

Setelah kemarin bercerita tentang serunya perjalanan dan perjuangan saya sejak dari rumah hingga mencapai TKP alias gudang Gramedia, sekarang apa yang akan terjadi ketika kaki saya sudah berada di dalam gudangnya?

Iya, antara terpana, kaget dan bingung, saya mengalaminya saat itu, setelah mengalungkan name tag dengan tali berwarna merah.
Saya hanya mampu berteriak dalam hati, "Saya udah menunggu selam tiga jam, lho.... Dan sekarang harus kayak gini?"

Menyaksikan pemandangan itu membuat hati saya merasakan sedikit

Banyak Rejeki dari 'Seru'nya Berburu Buku di Gramedia Big Sale (part 1)

Kenapa kata 'seru'nya harus memakai tanda kutip? karena menurut saya batasan-batasan, tanda-tanda untuk dikatakan seru pada tiap orang itu berbeda-beda.
Contohnya saja seperti nonton film. Tiap orang mempunyai standar-standar tertentu untuk mengatakan kalau film itu seru.

Balik lagi ke acara Gramedia Big Sale yang telat saya datangi karena baru punya waktunya pas akhir-akhir acara di gelar, padahal dimulainya sejak tanggal 15 Oktober, lho. Sekali lagi, saya baru sempat ke sini karena kemarin adalah waktu yang memungkinkan. Jadi leluasa nggak bawa dan diekori anak (lagi diungsikan ke rumah neneknya) dan suami (lagi sibuk kerja). :D

Dan Ini Keseruan Saya:

Sabtu, 12 September 2015

Pelatihan 'Na di Malam Pertama

Usianya sudah memasuki hampir di titik tiga tahun di tanggal 3 desember nanti, lebih tepatnya sekarang adalah 2 tahun 9 bulan. Sebagai seorang ibu, saya berinisiatif untuk mengajarkannya tidur sendiri tanpa ditemani oleh siapapun, tujuannya adalah tentu agar ia mandiri kelak jika sudah menempati kamar sendiri di usia dini.

Saat ini, kadang-kadang 'Na menempati kasur yang terpisah dari orangtuanya meski masih dalam satu kamar dan aku sebagai ibunya yang selalu menemaninya. Alhasil, ayahnya 'Na jarang tidur di dekat aku, eh.

'Na nggak akan bisa tidur kalau tidak memegang aku, atau minimal merasakan aku ada di dekatnya. hal ini ketahuan sejak kalau 'Na tidur siang, minimal aku ada di dalam kamar yang sama dengannya - lebih seringnya aku harus duduk di dekatnya asal bisa kepegang oleh tangannya- walaupun aku hanya duduk sambil nonton tv.



Di malam pertama, aku mencoba menemani dia dulu sampai terlelap. Setelah yakin dia terlelap,