![]() |
| Memori Janji es Krim |
Kemarin
ketika ada kurir paket nganterin sebuah bungkusan, hampir aja lupa, perasaan
udah ga ada paket yang lagi aku tunggu lagi, deh.
Pas dilihat
pengirimnya.... Ooww...! Aku tau dari siapa ini bukunya, girang dong, bukunya
udah mendarat di rumah.
Antusias
banget buat baca buku ini.
Langsung,
deh, konsentrasi baca hingga beberapa kali mengabaikan perut yang berbunyi
minta diisi (abaikan...) meski beberapa kali kejeda sama ngedit video buat
tayang di Youtube. Dan itu adalah kesalahan, cerita di Memori Janji Es Krim
menyedot setengah pikiran aku, Ngedit video nggak konsentrasi, soalnya ada yang
ribut dalam pikiran,
“Itu si Mia
kenapa mau ngelakuin apa yang disuruh oleh Karin?”
“Itu si Dudi
nggak tau gitu bagaimana perasaan Mia sesungguhnya berada di posisi seperti itu?”
Konsentrasi
ngedit Youtube juga sempat eror karena ngebayangin kalau si Gary lebih ganteng
dari Orlando Bloom. Aduh... seganteng apa jadinya?!
Intinya, ini
novel bikin geregetan kalau bacanya setengah-setengah.
Aku suka
banget dengan cara menulis dari penulis novel Memori Janji Es Krim ini.
Nuansa
romantis dan diselingi komedi tercipta mulus, kadang bikin aku senyum-senyum
sendiri. Nggak boleh ngakak nanti orang rumah suka protes, “Ngapain ketawa
sendiri? Makan dulu, gih!”. Iya, mamah aku mah suka gitu orangnya kalau lihat
aku ketawa-ketawa sendiri. Jutek gitu kesannya tapi perhatian, mirip mamahnya
Mia ga, ya...? Atau lebih jutek siapa? Atau jangan-jangan lebih jutek mamah
kamu? Hihihi...
Eits! Jangan
prasangka dulu sebelum baca bukunya.
Novel
romantis dengan ketebalan 366 halaman itu, memberikan kita banyak sekali
pelajaran untuk menghadapi hidup ini. Terhadap orangtua, saudara dan teman.
Bahasanya
mudah dimengerti, walaupun ada beberapa yang agak susah dipahami, mungkin
karena keterbatasan olahan otak aku aja kali, ya.
Kalimat yang
aku suka, ketika Mia berkata pada Gary, “Cinta memang datangnya nggak diduga,
kan? Pasti dari pertemuan-pertemuan itu akhirnya tumbuh cinta diantara kalian?”
(hal. 162)
![]() |
| Memori Jani Es Krim, hal. 162 |
Teh Nimas
juga mulus menggabungkan konflik-konflik yang dialami tokoh. Jadi walaupun tiap
tokoh punya masalah masing-masing, rasanya ceritanya nggak loncat sana-loncat
sini. ngalir banget. Walaupun masih tetap ada pertanyaan dalam hati untuk
awal-awal bab, “Benarkan Mia itu lulusan Hukum?! Masa sebego itu?” tapi
terlepas dari itu makin ke sini makin ke ending cerita kebangun dengan bagus
banget, dan ketika konfliknya klimaks, bikin “Dhuar! Mati kau!” Aku langsung
memposisikan diri sebagai Karin (hahaha... nggak sekejam gitu juga kali aku
mah).
Namun walaupun
kehidupan Mia kayak naik Roll Coaster, endingnya adalah menjadikan Mia sebagai sosok
yang keren di mataku soalnya hampir mirip aku banget yang selalu akhirnya
berpikiran, “Ya udahlah! Gue pasti mampu. Dan ini adalah hidup gue.” Makanya
aku juga keren.
Di
endingnya, Karin juga keren, Gary juga keren, Dudi juga keren, penulisnya juga
keren, ceritanya juga keren. Semuanya keren. Tak terlepas juga dari editornya
yang keren :D
“Jika terbiasa
hidup dipenuhi rasa iri atas ketidakberuntungan yang kita miliki, terutama
karena di sebelah kita ada seorang yang sangat sempurna sehingga menyedot semua
perhatian di sekitar kita dan menjadikan kita nggak lebih dari bayang-bayang
nggak penting, pasti bisa memiliki empati yang sama seperti yang aku miliki
sekarang ...” (hal. 220)
Kenapa Mia
berbicara seperti itu coba?
![]() |
| Memori Janji Es Krim, hal. 220 |
Yang
penasaran dengan sosok Mia, Karin, Dudi, Gary, Desvita Doddy (siapa lagi ini?), HARUS baca novel Memori Janji Es Krim yang ditulis Teh Nimas Aksan ini. Karena
kamu juga akan merasa deg-degan sendiri dengan bagian cerita sebelum
benar-benar mencapai ending.
Dan inget, jangan
pernah sembarangan mengucap nazar kalau gak mau sial kayak Mia.
Wanda Kania
IG : @wandakaniawati
youtube.com/c/Wandakania







