Rabu, 19 September 2012

Aku Relakan Dia Pergi



Aku melangkah perlahan menyusuri taman yang penuh daun jatuh akibat kemarau yang hampir berakhir. Angin berhembus mesra membelai dan memainkan rambutku. Kuhentikan langkahku saat sampai di ujung jembatan taman itu. Aku menatap sungai kecil dengan riakan air yang menari, mencoba menyimpulkan senyumku walau hanya terlukis sebaris di wajahku.

Terdengar suara derap kaki berlari kecil ke arahku.

Saat ia ada di sampingku, hembus napas yang masih terengah-engah menelisik telingaku.

“Kenapa kamu pergi?” tanyanya yang membuatku mau tak mau langsung menoleh padanya.

Dia merusak suasanaku akan menikmati sungai. Bukan hanya sungai, dia pun selalu merusak tatapan linearku akan langit yang penuh dengan biasan wajahnya.

Kapan dia mampu menyadari semuanya?

“Siapa yang sebenarnya pergi? Aku atau kamu?” tanyaku lirih.

Aku menatap wajah yang kini berjarak hanya setengah meter dari wajahku. Ada keteduhan di sana meski ia masih terlihat lelah karena mencariku. Matanya menyorotku, tatapan yang selalu membuatku terlena untuk terus menatapnya hingga masuk dan kutemukan sesuatu dalam hatinya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucapnya makin mendekatiku.

Aku tahu. Aku tahu apa yang akan ia katakan. Penjelasan akan kepingan adegan yang baru saja aku lihat, bukan? Aku membalikkan badan lalu kembali kutatap riak-riak kecil yang menggulung ringan di sungai itu. Haruskah aku mendengarkannya?

“Aku ingin kamu mengenal Ita, Laila,” ucapnya lagi yang mau tak mau menorehkan luka baru dalam hatiku.

Tuhan..., kenapa harus seperti ini yang aku terima?

Pandanganku mulai kabur tertutup kabut dalam kaca pupilku. Jangan! Jangan sampai ia melihat air mataku lagi. Tak bisakah aku tegar menghadapi semua ini? Tak bisakah aku ikhlas menerima semua kenyataan ini? Kenyataan dia mana kelak aku akan benar-benar kehilangan dia untuk selamanya. Kenyataan bahwa dia lebih memilih wanita yang baru memasuki kehidupannya dibanding aku yang telah memupuk dan mempertahankan rasa cinta dan rasa sayang sayang untuknya dari sejak bertahun-tahun yang lalu.

Ingin rasanya aku berteriak dan memberontak akan kehidupan yang aku rasa tak adil ini. Tapi pantaskah aku menentang takdir Tuhan?

“Laila ....” Aku mendengar suara seorang perempuan di belakangku. Aku tahu siapa perempuan itu. Aku harus menahan tangisku. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.

Tuhan ..., aku tak dapat membohongi hatiku, betapa aku sakit melihat semua ini.

Terdengar langkah kecil menghampiriku. Aku merasakan tangannya memaksa membalikkan badanku dengan pelan.

“Laila, aku minta maaf sama kamu sebelumnya. Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu,” ucap perempuan itu dengan halus, “Ijinkan aku menikah dengan Arya,” sambungnya. Sehalus apapun ia berkata, sembilu tajam itu tetap membeset dan membuat luka hatiku semakin menganga. Perkataan perempuan itu seakan menghempaskanku ke sungai penuh duri.

Tuhan ... ingin rasanya aku langsung bersimpuh lemas mendengar pernyataannya. Lututku seakan enggan untuk menopang tubuhku jika tak kupaksakan. Tapi, haruskah seperti itu?

Aku tetap menatap perempuan itu untuk meyakinkanku bahwa aku benar-benar mendengar apa yang ia katakan. Ada rasa memohon yang ia pancarkan dari sorotan matanya.

Kualihkan pandanganku pada lelaki itu, aku menatap dan mencari kebenaran akan apa yang terjadi saat ini ke dalam matanya yang selalu berkata jujur padaku. Arya mengangguk perlahan dan itu membuatku merasa taman langit yang dulu aku bangun dan coba aku pertahankan runtuh seketika menimpa jiwa rapuhku.

Tuhan ..., katakan aku sedang bermimpi saat ini. Bangunkan aku dari mimpiku ini. Aku tak mengharapkan semua ini. Kuatkan aku, Tuhan ....

Aku langsung memeluk perempuan yang berada di hadapanku kini. Seandainya aku memegang sebuah pisau, tak akan aku berpikir dua kali untuk langsung menusuk perutnya dan akan kubiarkan ia mati terkapar. Tapi aku bukan iblis, dan aku tak mau itu terjadi.

Naluriku sebagai seorang perempuan merayuku agar aku tetap berdiri sebagai diriku sendiri yang masih menyimpan rasa cinta dan rasa sayang terhadap lelaki yang kelak menjadi milik perempuan itu.

Tuhan ..., ijinkan aku menagis saat ini. Aku tak mampu menahan genangan bening di mataku.

Tuhan ..., ijinkan aku menangis karena luka hati yang kini kembali ada dan entah kapan mampu mengering.

Tuhan ..., ijinkan aku menangis agar aku tegar menerima kenyataan ini.

Arya melepaskan paksa pelukanku dari perempuan itu. Dia berdiri di hadapanku dan memegang kedua bahuku. Seaat ia menatapku lalu menarik tubuhku agar jatuh ke dalam pelukannya dan membiarkan aku tenggelam dalam kehangatan yang tak mungkin aku dapatkan lagi.

Tuhan ..., biarkan aku menangis saat ini karena rasa cinta pada seseorang yang tak mungkin aku mampu miliki.

Tuhan ..., biarkan waktu berhenti saat aku berada dalam pelukannya seperti ini karena di sinilah aku menemukan duniaku.
Tuhan ..., ijinkan aku benar-benar utuh memilikinya walau sesaat dalam seumur hidupku.

“Dik, ingatkah kamu akan janji kakak? Kelak sampai kapanpun kakak akan selalu menjadi bintang penjaga hatimu dan nggak akan pernah ninggalin kamu dengan alasan apapun,” bisiknya sembari mempererat pelukannya.

Tuhan ..., jangan biarkan ia melepaskanku, jika memang dengan itu ia mampu merasakan cinta dan rasa sayangku.

Sreett!!

Aku kembali merasakan irisan luka itu saat aku tersadar ada seorang perempuan yang menantikan kehadiran lelaki yang kini membuaiku dalam kehangatan pelukannya.

Kulepaskan pelukannya secara perlahan walau enggan dan terasa berat. Aku harus tegar menghadapi semua ini. Meski tahu akan tertatih untuk awalnya, aku ingin kelak ia tersenyum padaku seperti dulu saat ia memandangku berdiri tegak dan menari di atas  ombak.

Tanpa kata, ia menatapku dengan penuh sayang. Kelak aku akan merindukan tatapan itu. Entah kapan aku akan mendapatkan penggantinya. Atau mungkkin tidak sama sekali. Tapi, bukankah aku harus rela melepasnya untuk perempuan itu?

Aku tak ingin perempuan itu mengalami hal yang sama denganku. Merasakan rasa sakit karena kehilangan. Merasakan lara karena tak dapat memiliki. Cukup hanya aku yang mengalaminya.

Ia tersenyum padaku agar aku kuat berdiri menjalani hidup. Kelak senyum itu yang harus ia hadirkan saat melewati hari-hari barunya dengan perempuan itu.

Aku kembali memeluknya, mungkin pelukan untuk yang terakhir kali. Ia kembali mendekapku membiarkan aku menyisip ke dalam hatinya. Aku merasakan ia mengecup keningku dan aku membiarkannya karena hanya itu cara ia mengisyaratkan akan selalu ada cinta dalam hatinya untukku meski tak harus saling memiliki raga.

Hidup harus terus berjalan dan aku tak ingin dia melihatku rapuh kembali. Karena aku mencintainya.


Semarang, 19 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar