Senin, 15 Oktober 2012

Valentine Terakhir


“Yakin lo, nggak akan ikutan valentine malam nanti?" Mala menggeleng pelan menolak ajakan Naila.
"Maaf, aku udah ngambil keputusan buat ngejalanin jalan hidupku yang baru. Dan menurutku, sebaiknya kalian pun tinggalin acara seperti itu." Sembari memeluk buku-bukunya dengan erat, Mala menunggu reaksi teman-temannya dengan hati berdegup.
"Yaelah, kenapa lo jadi pinter ceramah dan sok suci gitu?" tanya Naila sinis.
"Gara - gara ketularan adiknya yang jebolan pesantren itu, ya?" Berbagai kalimat cibiran dan  bernada sinis meluncur dari mulut teman-teman satu genk-nya itu. Satu genk? Yupz!!! Tapi, itu dulu, sebelum Mala memutuskan memakai jilbab dua bulan yang lalu atas ajakan Rara, adik yang selalu mendorongnya dengan semangat untuk ber'hijrah' menjadi muslimah seutuhnya, meski dengan resiko harus dijauhi teman - temannya.
"Ayolah Mala, malam ini aja. Kita, kan, udah ngasih toleransi masih mau berteman denganmu meski kamu pake kerudung," bujukan halus Santi belum bisa meluruhkan hati Mala.
Mala masih teguh dengan pendiriannya. Hanya sebuah senyuman yang ia sunggingkan untuk menjawab ajakan Santi.
"Oh iya, kita lupa! Mala, kan, sekarang orang nggak punya. Bukankah malam ini dia harus bantu ibunya menjahit baju pesanan tetangga."
Jleebb!! Kalimat yang tak pernah dilontarkan sahabat-sahabatnya itu mulai mencuat dari mulut mereka karena Mala dianggap pengkhianat. Tampang mengejek Tasya bagaikan belati menusuk jantungnya. Sekejap Mala menahan napas. Hampir tangannya mendarat di pipi mulus Tasya, beruntung Mala masih mampu menahan emosinya.
***
Bayangan wajah di cermin itu begitu kusut memantulkan rasa dendam, rasa sakit, emosi yang membuncah ketika mengingat kejadian siang tadi.
"Ayah ...," kata itu terucap lirih. Batinnya bergemuruh. Terbayang wajah seorang lelaki yang begitu disayanginya di hari terakhir lelaki itu sebelum menutup mata selama-lamanya. Ayah kini sudah meninggal karena serangan jantung ketika perusahaannya dinyatakan bangkrut. Ayah hanya menyisakan warisan berupa kehidupan yang bertolak belakang dengan kehidupannya dulu yang bergelimang kemewahan. Sekarang kehidupan yang tersisa untuk Mala hanyalah sebuah rumah kecil dengan dua kamar tidur, seorang adik yang selalu memberikan semangat untuk maju, serta seorang ibu yang selalu meneduhkan hatinya, memberinya kasih sayang tulus yang tak dapat digantikan oleh harta dunia. Sepatutnya Mala mensyukuri semua itu. Tapi kejadian tadi siang menyelasak batinnya. Ia ingin marah dengan apa yang terjadi pada kehidupanya kini.
"Nggak ada duit buat ngerayain valentine, kan?" Terngiang kembali ucapan Tasya yang membuat amarahnya bergejolak.
"Ok! Hanya untuk malam ini ...!!!" bisik Mala pada dirinya sendiri. Wajahnya merah menahan marah. Mala membuka jilbabnya dengan kasar. Diobrak-abrik lemarinya mencari pakaian yang akan ia kenakan untuk malam nanti.
***
Jam sudah menunjukan angka sepuluh. Tiba-tiba perasaannya tak enak. Musik disko yang menghentak makin membuat jantungnya berdebar tak menentu. Lampu kelap-kelip kadang menyilaukan mata seakan menumbuk otaknya. Kenapa saat ini ia tak bisa menikmati pesta yang biasa ia lakukan waktu dulu. Teman-temannya terlihat masih asyik menikmati pesta itu sambil sesekali tertawa cekikikan.
Hatinya miris saat menyadari di mana ia berada sekarang. Harusnya bukan di tempat ini ia berada. Harusnya sekarang dia baru saja pulang dari pengajian remaja di mesjid dekat rumahnya.
Bayangan ibu sore tadi kembali berkelabat di depannya. Sore tadi, ia sempat bersitegang dengan ibu yang melarangnya pergi. Ada kecemasan di raut wajah ibu ketika melihat anaknya melepas jilbab dan pergi dengan baju 'seadanya'. Berkelabat pula bayangan Rara yang berteriak memanggil dan mengejarnya ketika motor Gaha yang memboncengnya melaju keluar dari pekarangan rumah.
"Met valentine, Mala." Gaha duduk di sampingnya sembari memberikan segelas minuman berwarna biru. Ada rasa janggal ketika Mala mendengar Gaha mengucapkan kalimat itu, kalimat yang diucapkan teman–temannya saat ia baru datang tadi. Mala tersenyum mencoba menutupi rasa cemasnya di hadapan laki–laki yang dulu sempat menjadi kekasihnya. Entahlah, Gaha mungkin masih menganggapnya pacar, karena Mala memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Dering ponselnya terdengar samar. Getrannya yang membuat Maya menyadari ada pesan masuk ke ponselnya
Mbak, sakit ibu kambuh lagi, cepet pulang.
Terhenyak saat ia membaca SMS dari Rara.
“Antar aku pulang, sekarang,” pinta Mala menepis tangan Gaha yang mencoba merangkulnya.
“Tapi, ini kan masih jam sepuluh. Dua jam lagi aku antar kamu pulang,” jawab Gaha dengan kepala menggeleng-geleng mengikuti alunan musik. Teman-teman perempuannya sedang asyik di lantai dansa, entah masih sadar sepenuhnya atau tidak. Pengaruh minuman keras mungkin sudah membuat mereka tak mengingat di mana tempat mereka berpijak sekarang.
"Aku pulang sekarang dengan atau tanpamu." Mala segera beranjak dan meninggalkan teman-temannya yang sekarang mungkin udah nggak peduli dengan kehadirannya karena mabuk berat.
"Oke-oke! Kita pulang sekarang." Gaha mengikutinya menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan, begitu sering wajah ibu berkelabat di pikirannya.
"Ya Tuhan, ada apa ini dengan perasaanku? Aku mohon jaga ibu." do'a Mala dalam hati. Berdo'a? Masih pantaskah ia berdo'a dalam keadaan dan kelakuan seperti ini. Yang menolak ajakan Rara untuk ikut pengajian dan malah lebih memilih ajakan pesta Valentine yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya.
Di saat pikiran Mala makin berkecamuk, tiba - tiba motor yang ditumpangi mereka oleng dan menyenggol preman yang biasa nongkrong di sepanjang jalan itu. Apa Gaha sudah tak bisa berkonsentrasi membawa motornya karena pengaruh minuman tadi? Hati Mala tambah was-was.
"Hei! lo cari mati, ya? Turun lo dari motor!" bentak preman yang tadi tersenggol. Di belakangnya berdiri orang-orang berbaju hitam, badan mereka jauh lebih besar dan berotot dari Gaha.
"Maaf mas, nggak sengaja." Gaha mencoba berdamai.
"Cuihh! maaf, maaf. Segampang itu lo minta maaf." Preman itu sama sekali tak menampakkan belas kasihan. Sebuah tonjokan melayang ke perut Gaha.
"Gaha ... !!" pekik Mala. Gaha meringgis menahan sakit. Mala panik, wajahnya pias, rasa takut membelengunya saat itu
Satu tonjokan lagi melayang ke wajah Gaha, untung Gaha sempat menghindar dan menangkis serangan itu. Perkelahian tak dapat dihindarkan. Satu lawan enam, pertarungan yang tak seimbang dan Mala terjebak di tengah kekacauan perkelahian itu.
Mala berteriak histeris meminta tolong. Ia berusaha keluar dari keributan itu.
Jleebb!! Mala merasakan sesuatu mengenai perutnya. Sebuah belati tertancap. Perih, rasa perih yang lebih nyata dari hinaan Tasya, dan cairan merah itu terlihat melumuri tangan yang tadi memegang perutnya.
Perih .... Makin lama kakinya mulai tak dapat menahan badannya sendiri. Terasa lemah, sangat lemah.
Tubuh Mala tergeletak di pinggir jalan. Bayangan ibunya kembali nampak di hadapannya. Bagaimana keadaan ibu? Apakah ibu merasakan sakit gara-gara kelakuanku seperti rasa sakit yang aku rasakan sekarang? Atau mungkin lebih sakit karena ketidakpedulian anaknya akan nasehatnya sore tadi? batin Maya lirih.
“Maafin Mala, Bu…,” suaranya terdengar pelan. Apakah ibu memaafkannya walau suara itu tak terdengar langsung? Bukankah batin seorang ibu tak mengenal jarak dan waktu? Disusul wajah Rara yang teduh menatapnya dengan sendu, lalu tiba-tiba jauh di sana, terlihat ayah tersenyum dan berusaha memeluknya. Mala berusaha membalas senyumnya. Tapi, rasa perih itu membuat bibirnya kelu. Kemudian terlihat di pelupuknya sebuah kain putih melayang.
"Jilbabku ...." Tangannya berusaha meraih kain itu. Tapi terlalu sulit sampai akhirnya kain putih itu melayang makin jauh dari pandangannya.
"Ya Allah ..., ampuni aku ...." Terasa udara makin dingin menyelimuti tubuhnya.

"Malaaa ...!!!" Hanya teriakan Gaha yang terdengar memanggil sebelum akhirnya dunia menjadi gelap. Sangat gelap.
***
Setitik cahaya putih itu berpendar, makin lama makin besar begitu ia mendekatinya.
Ibu? Wajah cemas ibu yang pertama kali dilihatnya di ruangan serba putih itu. Rara, Santi, Naila, wajah–wajah itu mengelilinya dengan raut tak kalah cemas dari ibu.
“Mala ...,” suara ibu yang begitu lembut seakan embun membayar dahaga dalam perjalanan panjangnya tadi.
“Alhamdulillah, Mbak Mala udah sadar,” ucap Rara diikuti teman–temannya.
“Ibu …, Di mana Ayah?” tanya Mala dengan suara yang hampir tak keluar. Hanya terlihat olehnya Ibu yang masih cemas dan berusaha tersenyum.
"Mala, ingin ketemu Ayah, Bu ...." Matanya kembali terasa lelah dan kembali tertutup sebelum mendengar apa yang dikatakan ibunya.
***
Di hadapan komputer kini ia termenung.  Ditutup matanya sejenak ketika mengingat kejadian itu, bersyukur ia masih diberi kehidupan kedua untuk memperbaiki semuanya. Rasa sedih menggelayut dalam hatinya saat mengetahui selain Naila dan Santi semua temannya meninggal dalam keadaan mabuk karena kebakaran yang melanda diskotik itu. Gaha meninggal di tengah pertarungan yang tak seimbang malam itu.
“Ampuni hamba, ya Rabb!! Aku janji, tak akan ada valentine lagi untuk hari esok.” Kalimat itu ia ketika untuk mengakhiri cerita yang ia tuliskan di layar monitor notebooknya malam itu.
Save, exit, shut down.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar