“Yakin lo, nggak akan ikutan valentine malam nanti?" Mala menggeleng pelan menolak ajakan Naila.
"Maaf, aku udah
ngambil keputusan buat ngejalanin jalan hidupku yang baru. Dan menurutku,
sebaiknya kalian pun tinggalin acara seperti itu." Sembari memeluk buku-bukunya
dengan erat, Mala menunggu reaksi teman-temannya dengan hati berdegup.
"Yaelah, kenapa lo
jadi pinter ceramah dan sok suci gitu?" tanya Naila sinis.
"Gara - gara
ketularan adiknya yang jebolan pesantren itu, ya?" Berbagai kalimat
cibiran dan bernada sinis meluncur dari
mulut teman-teman satu genk-nya itu. Satu genk? Yupz!!! Tapi, itu dulu, sebelum
Mala memutuskan memakai jilbab dua bulan yang lalu atas ajakan Rara, adik yang
selalu mendorongnya dengan semangat untuk ber'hijrah' menjadi muslimah
seutuhnya, meski dengan resiko harus dijauhi teman - temannya.
"Ayolah Mala,
malam ini aja. Kita, kan, udah ngasih toleransi masih mau berteman denganmu
meski kamu pake kerudung," bujukan halus Santi belum bisa meluruhkan hati
Mala.
Mala masih teguh dengan
pendiriannya. Hanya sebuah senyuman yang ia sunggingkan untuk menjawab ajakan
Santi.
"Oh iya, kita
lupa! Mala, kan, sekarang orang nggak punya. Bukankah malam ini dia harus bantu
ibunya menjahit baju pesanan tetangga."
Jleebb!! Kalimat yang
tak pernah dilontarkan sahabat-sahabatnya itu mulai mencuat dari mulut mereka
karena Mala dianggap pengkhianat. Tampang mengejek Tasya bagaikan belati
menusuk jantungnya. Sekejap Mala menahan napas. Hampir tangannya mendarat di pipi
mulus Tasya, beruntung Mala masih mampu menahan emosinya.
***
Bayangan wajah di
cermin itu begitu kusut memantulkan rasa dendam, rasa sakit, emosi yang
membuncah ketika mengingat kejadian siang tadi.
"Ayah ...,"
kata itu terucap lirih. Batinnya bergemuruh. Terbayang wajah seorang lelaki
yang begitu disayanginya di hari terakhir lelaki itu sebelum menutup mata
selama-lamanya. Ayah kini sudah meninggal karena serangan jantung ketika perusahaannya
dinyatakan bangkrut. Ayah hanya menyisakan warisan berupa kehidupan yang
bertolak belakang dengan kehidupannya dulu yang bergelimang kemewahan. Sekarang
kehidupan yang tersisa untuk Mala hanyalah sebuah rumah kecil dengan dua kamar
tidur, seorang adik yang selalu memberikan semangat untuk maju, serta seorang
ibu yang selalu meneduhkan hatinya, memberinya kasih sayang tulus yang tak
dapat digantikan oleh harta dunia. Sepatutnya Mala mensyukuri semua itu. Tapi
kejadian tadi siang menyelasak batinnya. Ia ingin marah dengan apa yang terjadi
pada kehidupanya kini.
"Nggak ada duit
buat ngerayain valentine, kan?" Terngiang kembali ucapan Tasya yang
membuat amarahnya bergejolak.
"Ok! Hanya untuk
malam ini ...!!!" bisik Mala pada dirinya sendiri. Wajahnya merah menahan
marah. Mala membuka jilbabnya dengan kasar. Diobrak-abrik lemarinya mencari
pakaian yang akan ia kenakan untuk malam nanti.
***
Jam sudah menunjukan
angka sepuluh. Tiba-tiba perasaannya tak enak. Musik disko yang menghentak
makin membuat jantungnya berdebar tak menentu. Lampu kelap-kelip kadang
menyilaukan mata seakan menumbuk otaknya. Kenapa saat ini ia tak bisa menikmati
pesta yang biasa ia lakukan waktu dulu. Teman-temannya terlihat masih asyik menikmati
pesta itu sambil sesekali tertawa cekikikan.
Hatinya miris saat
menyadari di mana ia berada sekarang. Harusnya bukan di tempat ini ia berada.
Harusnya sekarang dia baru saja pulang dari pengajian remaja di mesjid dekat rumahnya.
Bayangan ibu sore tadi
kembali berkelabat di depannya. Sore tadi, ia sempat bersitegang dengan ibu
yang melarangnya pergi. Ada kecemasan di raut wajah ibu ketika melihat anaknya
melepas jilbab dan pergi dengan baju 'seadanya'. Berkelabat pula bayangan Rara
yang berteriak memanggil dan mengejarnya ketika motor Gaha yang memboncengnya
melaju keluar dari pekarangan rumah.
"Met valentine,
Mala." Gaha duduk di sampingnya sembari memberikan segelas minuman
berwarna biru. Ada rasa janggal ketika Mala mendengar Gaha mengucapkan kalimat
itu, kalimat yang diucapkan teman–temannya saat ia baru datang tadi. Mala
tersenyum mencoba menutupi rasa cemasnya di hadapan laki–laki yang dulu sempat
menjadi kekasihnya. Entahlah, Gaha mungkin masih menganggapnya pacar, karena
Mala memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Dering ponselnya
terdengar samar. Getrannya yang membuat Maya menyadari ada pesan masuk ke
ponselnya
Mbak, sakit ibu kambuh lagi, cepet pulang.
Terhenyak saat ia
membaca SMS dari Rara.
“Antar aku pulang,
sekarang,” pinta Mala menepis tangan Gaha yang mencoba merangkulnya.
“Tapi, ini kan masih
jam sepuluh. Dua jam lagi aku antar kamu pulang,” jawab Gaha dengan kepala
menggeleng-geleng mengikuti alunan musik. Teman-teman perempuannya sedang asyik
di lantai dansa, entah masih sadar sepenuhnya atau tidak. Pengaruh minuman
keras mungkin sudah membuat mereka tak mengingat di mana tempat mereka berpijak
sekarang.
"Aku pulang
sekarang dengan atau tanpamu." Mala segera beranjak dan meninggalkan
teman-temannya yang sekarang mungkin udah nggak peduli dengan kehadirannya
karena mabuk berat.
"Oke-oke! Kita pulang sekarang." Gaha mengikutinya menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan,
begitu sering wajah ibu berkelabat di pikirannya.
"Ya Tuhan, ada apa
ini dengan perasaanku? Aku mohon jaga ibu." do'a Mala dalam hati.
Berdo'a? Masih pantaskah ia berdo'a dalam keadaan dan kelakuan seperti ini.
Yang menolak ajakan Rara untuk ikut pengajian dan malah lebih memilih ajakan
pesta Valentine yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya.
Di saat pikiran Mala
makin berkecamuk, tiba - tiba motor yang ditumpangi mereka oleng dan menyenggol
preman yang biasa nongkrong di sepanjang jalan itu. Apa Gaha sudah tak bisa
berkonsentrasi membawa motornya karena pengaruh minuman tadi? Hati Mala tambah
was-was.
"Hei! lo cari
mati, ya? Turun lo dari motor!" bentak preman yang tadi tersenggol. Di
belakangnya berdiri orang-orang berbaju hitam, badan mereka jauh lebih besar
dan berotot dari Gaha.
"Maaf mas, nggak
sengaja." Gaha mencoba berdamai.
"Cuihh! maaf,
maaf. Segampang itu lo minta maaf." Preman itu sama sekali tak menampakkan
belas kasihan. Sebuah tonjokan melayang ke perut Gaha.
"Gaha ... !!"
pekik Mala. Gaha meringgis menahan sakit. Mala panik, wajahnya pias, rasa takut
membelengunya saat itu
Satu tonjokan lagi
melayang ke wajah Gaha, untung Gaha sempat menghindar dan menangkis serangan
itu. Perkelahian tak dapat dihindarkan. Satu lawan enam, pertarungan yang
tak seimbang dan Mala terjebak di tengah kekacauan perkelahian itu.
Mala berteriak histeris
meminta tolong. Ia berusaha keluar dari keributan itu.
Jleebb!! Mala merasakan
sesuatu mengenai perutnya. Sebuah belati tertancap. Perih, rasa perih yang
lebih nyata dari hinaan Tasya, dan cairan merah itu terlihat melumuri tangan
yang tadi memegang perutnya.
Perih .... Makin lama kakinya
mulai tak dapat menahan badannya sendiri. Terasa lemah, sangat lemah.
Tubuh Mala tergeletak
di pinggir jalan. Bayangan ibunya kembali nampak di hadapannya. Bagaimana
keadaan ibu? Apakah ibu merasakan sakit gara-gara kelakuanku seperti rasa sakit
yang aku rasakan sekarang? Atau mungkin lebih sakit karena ketidakpedulian
anaknya akan nasehatnya sore tadi? batin Maya lirih.
“Maafin Mala, Bu…,” suaranya terdengar pelan. Apakah ibu memaafkannya walau suara itu tak terdengar langsung? Bukankah batin seorang ibu tak mengenal jarak dan waktu? Disusul wajah Rara yang teduh menatapnya dengan sendu, lalu tiba-tiba jauh di sana, terlihat ayah tersenyum dan berusaha memeluknya. Mala berusaha membalas senyumnya. Tapi, rasa perih itu membuat bibirnya kelu. Kemudian terlihat di pelupuknya sebuah kain putih melayang.
“Maafin Mala, Bu…,” suaranya terdengar pelan. Apakah ibu memaafkannya walau suara itu tak terdengar langsung? Bukankah batin seorang ibu tak mengenal jarak dan waktu? Disusul wajah Rara yang teduh menatapnya dengan sendu, lalu tiba-tiba jauh di sana, terlihat ayah tersenyum dan berusaha memeluknya. Mala berusaha membalas senyumnya. Tapi, rasa perih itu membuat bibirnya kelu. Kemudian terlihat di pelupuknya sebuah kain putih melayang.
"Jilbabku
...." Tangannya berusaha meraih kain itu. Tapi terlalu sulit sampai
akhirnya kain putih itu melayang makin jauh dari pandangannya.
"Ya Allah ...,
ampuni aku ...." Terasa udara makin dingin menyelimuti tubuhnya.
"Malaaa
...!!!" Hanya teriakan Gaha yang terdengar memanggil sebelum akhirnya
dunia menjadi gelap. Sangat gelap.
***
Setitik cahaya putih
itu berpendar, makin lama makin besar begitu ia mendekatinya.
Ibu? Wajah cemas ibu
yang pertama kali dilihatnya di ruangan serba putih itu. Rara, Santi, Naila,
wajah–wajah itu mengelilinya dengan raut tak kalah cemas dari ibu.
“Mala ...,” suara ibu
yang begitu lembut seakan embun membayar dahaga dalam perjalanan panjangnya
tadi.
“Alhamdulillah, Mbak
Mala udah sadar,” ucap Rara diikuti teman–temannya.
“Ibu …, Di mana Ayah?”
tanya Mala dengan suara yang hampir tak keluar. Hanya terlihat olehnya Ibu yang
masih cemas dan berusaha tersenyum.
"Mala, ingin
ketemu Ayah, Bu ...." Matanya kembali terasa lelah dan kembali tertutup
sebelum mendengar apa yang dikatakan ibunya.
***
Di hadapan komputer
kini ia termenung. Ditutup matanya sejenak ketika mengingat kejadian itu,
bersyukur ia masih diberi kehidupan kedua untuk memperbaiki semuanya. Rasa
sedih menggelayut dalam hatinya saat mengetahui selain Naila dan Santi semua
temannya meninggal dalam keadaan mabuk karena kebakaran yang melanda diskotik
itu. Gaha meninggal di tengah pertarungan yang tak seimbang malam itu.
“Ampuni hamba, ya
Rabb!! Aku janji, tak akan ada valentine lagi untuk hari esok.” Kalimat itu ia
ketika untuk mengakhiri cerita yang ia tuliskan di layar monitor notebooknya
malam itu.
Save, exit, shut down.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar