Kamis, 08 November 2012

(Terlalu) Waspada Dengan Berita Hipnotis

Pagi itu, mamahku ribut di rumah dan memberitahuku bahwa kemarin ada kejadian beberapa teteangga yang hampir saja terhipnotis di rumah mereka sendiri oleh eorang lelaki yang tak dikenal yang berkeliaran di sekitar perumahan.

Katanya, yang pertama hampir terhipnotis adalah tetangga yang bernama Ivan, hampir saja burungnya yang bertengger di halaman rumah diambil oleh si penghipnotis, yang ini sih, gak tau alasannya kenapa si penghipnotis bisa gagal mempengaruhi Ivan.

Trus, yang kedua katanya seorang tetangga di blok yang lebih atas, yang hampir saja diambil perhiasannya yang sudah dilucuti dari tubuhnya, untung ada orang lain yang tiba-tiba mengajak ngobrol si penghipnotis, membuat si korban langsung sadar diri, hingga gagal pula aksi menghipnotisnya kali itu.

Trus ada lagi (ni orang gak kapok-kapok beraksi di perumahan yang sama), dia masuk ke sebuah rumah dengan pedenya mau memakai motor yang terparkir di halaman rumah, kebetulan saat itu hanya ada istri si pemilik rumah, yang dengan begitu saja memeberikan kunci pada si penghipnotis, padahal mereka gak saling kenal. Nasib masih memihak si korban, saat itu tiba-tiba datang suaminya yang baru datang dari luar (gak tau dari mana, tuh). Si istri langsung sadar dan segera mengambil kembali kunci motor dari si penghipnotis itu.

Setelah itu, si penghipnotis beredar lagi ke rumah-rumah yang lain, kadang kala dia mengaku sebagai petugas kelurahan untuk mendata warga supaya bisa ikut pemilihan lurah yang akan berlangsung beberapa minggu lagi.

Mamah makin wanti-wanti padaku, karena aku kadang ceroboh, menulis di ruang tamu dengan pintu terbuka lebar, atau kadang aku menyimpan notebook-ku di meja tamu bukannya di kamar tidur. Aku hanya bisa mengangguk-angguk. Sambil memegang perutku yang makin buncit karena sedang hamil menjelang 8 bulan, aku elus-elus perutku sambil ngomong ke janinku, "Na, ntar bantu mamah, ya, kalau penghipnotis itu datang, supaya mamah selalu sadar dan gak sampai terpengaruhi." Ya, aku yakin aja bakal tetap sadar meski penghipnotisku ada di depanku nanti (jangan sampai, deh).

Ketika mamahku lagi ada di rumah iparku yang bersebrangan dengan rumah kami, aku lagi nonton tv siang itu, tiba-tiba ada seorang lelaki mengetuk pintu rumah. Aku sibakkan sedikit gorden dan kulihat lelaki itu membawa sebuah kertas seperti sebuah catatan apa gitu.
"Jangan-jangan ini orangnya," pikirku makin waspada dan deg-degan. Soalnya wajahnya asing banget dan aku menebak kalau dia yang pura-pura jadi pegawai kelurahan. Sedikit ragu aku membukakan pintu.

"Ibunya ada?" tanyanya sopan. Deg! ngapain dia nanyain mamah? Mungkin itu hanya triknya saja untuk membuatku lengah.

"Lagi keluar," sahutku takut-takut tanpa membukakan pintu lebih lebar. Alhamdulillah, begitu aku menjawab seperti itu, Mamah nongol dari rumah iparku dan segera menuju rumah kami. Aku merasa lega.

"Hamil berapa bulan, neng?" tanyanya lagi sambil tersenyum.

"Tujuh bulan" jawabku sedikit jutek dan bohong. Idih, nanya-nanya supaya lebih mudah aku terhipnotis, ya? Batinku

"Tunggu sebentar, nanti mamah ke sini, kok," uapku sambil kembali menutup pintu rapat-rapat menunggu mamah sampai ke rumah.

"Semoga mamah juga gak kehipnotis," batinku sambil tetap waspada.

"Silakan masuk, iya ibu sudah bikin kartu keluarga yang baru dan ... bla ... bla ... bla ...," mamah ngobrol panjang lebar setelah lelaki tadi duduk di kursi tamu. Aku mengernyitkan dahi.

"Kemarin ibu ke rumah Pak RT, cuma katanya bapak lagi gak ada di rumah, jadi ibu balik lagi aja. dan eh, kebetulan sekarang bapak ke sini," kata mamah lagi yang membuatku langsung salting. Aku segera masuk ke kamar dan menahan tawaku.

Setelah lelaki yang mamah sebut sebagai Pak RT itu pergi, aku langsung ngakak hampir guling-guling. Aku ceritakan pada mamah tentang perkiraan dan perasaan takutku tadi.

"Masa gak tau kalau itu Pak RT?" tanya mamahku sambil tertawa. Yaelah Mah, aku baru berapa bulan tinggal di sini, kan sebelumnya aku merantau di Semarang. Lagian selama di sini aku jarang gaul keluar apalagi ketemu Pak RT. ngurusin surat pindah dan tetek bengeknya pun kan diurus mamah, aku gak pernah ikut-ikutan ke rumah Pak RT.

Ya ampun, saking terlalu waspadanya dengan rumor tentang penghipnotis yang berkeliaran di perumahan ini, aku jadi terkesan kurang ajar banget, ya, ketika Pak RT datang aku gak mempersilahkannya masuk malah menutup pintu rapat-rapat.
Maafkan aku, Pak RT.

:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar