Minggu, 09 November 2014

Yang Mengidap Sesak Napas pun Bisa Melahirkan Normal

Teringat ketika menengok teman yang baru saja melahirkan. Si suami berkata ingin sekali ia mengabarkan pada dunia agar para perempuan yang sedang hamil walau pun memiliki penyakit asma atau sesak napas seperti istrinya ternyata bisa melahirkan normal.

Jangan pernah merasa takut atau mempunyai pikiran kalau mereka yang mengidap atau sesak napas akan berakhir dengan operasi caesar ketika akan melahirkan.

Entah kebetulan atau tidak, istrinya dan aku pun sama, mengidap sesak napas. Seringnya sesak nafasku kambuh saat aku kecapekan.

Dulu saat hamil dan kandungan sudah besar, aku pun merasa was-was membayangkan saat kelahiran anak pertama tiba. Berbagai pikiran menakutkan berkecamuk; bagaimana kalau sesak napasku kambuh saat aku mengejan ketika melahirkan? Bagaimana kalau aku kehabisan napas nanti? Bagaimana kalau pingsan di tengah proses persalinan? Apa yang akan terjadi dengan bayiku nanti?



Berbagai pikiran negatif itu ditepis dengan keras (cenderung seperti orang yang menyangkal kenyataan, sih) oleh ibuku dengan mengatakan kalau kita harus selalu berpikir positif, jangan berpikira yang macam-macam apalagi negatif seperti itu. Suami aku pun sudah merasakan was-was dan berpikiran negatif sama sepertiku. Sampai-sampai ia merencanakan dan bersiaga akan membawaku ke rumah sakit kalau-kalau terjadi hal yang darurat padaku saat proses persalinan, yang rencananya akan dilakukan di bidan dekat rumah.

Saat detik-detik itu tiba, saat tengah malam pula menjelang dini hari, kontraksi mulai terasa tiga menit sekali. Entah kenapa rasanya tenang-tenang saja. Tidak ada perasaan was-was atau takut seperti sebelum-sebelumnya.

Diantar bibi (adik mamah) dan adikku yang lelaki-suamiku stand by di kantor dari sore karena subuhnya akan ke Jakarta memakai mobil kantor- , jam dua dini hari aku mengetuk rumah bidan yang berjarak beberapa rumah dari kamarku.

"Sudah pembukaan dua," kata bidan setelah memeriksaku. "Mau nunggu di sini atau di rumah? Kalau dua jam masih terasa rutin kontraksinya berarti bagus. Kalau mau tidur sini aja, soalnya kalau sudah pembukaan empat ke sana biasanya nggak akan kuat jalan," sambungnya.

Entah kenapa aku lebih memilih untuk menunggu di rumah dan tidur dengan santai di kasurku sendiri sambil sesekali menikmati setiap rasa sakit dan mules di perutku saat kontraksi. Dzikir dan beristighfar sambil berusaha untuk tidur menemaiku melewati dua jam kontraksi yang semakin terasa menggila mulesnya. Alhamdulillah adzan subuh berkumandang. Tadinya mau shalat tapi ternyata nggak kuat berdiri saat mulesnya datang.

Beberapa saat kemudian Ibu Bidan yang datang ke rumah dan memeriksaku kembali. "Sudah masuk pembukaan enam," katanya. "Saya persiapan dulu di rumahnya, ya. Nanti nyusul, ya?!" kata Bu Bidan lagi.

Aku berusaha tenang. Dan ternyata memang benar, di tengah perjalanan hampir nggak kuat berjalan saat kontraksinya datang lagi. Alhamdulilllah setelah sampai di kasur di klinik rumah bidan, pembukaan sudah lengkap, sepuluh. Nggak kuat pengin ngeden yang sebelumnya dilarang mengejan kalau belum pembukaan sepuluh.

Proses melahirkan terhitung lama karena katanya napasku pendek dan lemah. Bantuan oksigen disalurkan melalui hidungku. Aku hampir putus asa tapi bidannya optimis kalau aku bisa. Dan bibiku pun bilang, nggak boleh ngomong macam-macam harus terus berusaha,

Aku hampir menyerah, bukan karena capek tapi karena pikiran takut pingsan menyelimutiku. Tadinya mau minta dicaesar aja biar cepat. Tapi pikiran itu langsung kubuang melihat keadaan kamar di klinik yang tidak ada alat-alat untuk operasi sedangkan proses persalinan sudah setengah jalan. Bagaimana proses caesarnya kalau alat-alatnya minim begitu? Hiii... ngeri...

Hampir dua jam berusaha sebisa mungkin mengejan dengan kuat. Perjuangan yang menguras tenaga itu membuahkan hasil.  Alhamdulillah bayi perempuan mungil dan cantik keluar dengan selamat dan langsung menangis dengan keras. Alhamdulillah nggak kerasa mules lagi. Alhamdulillah nggak harus mengejan lagi.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari pengalamanku sendiri adalah kita harus selalu berpikir positif dengan apa yang akan terjadi ke depan dan lalui dengan hati yang tenang.

Bukan hanya aku dan temanku yang mengidap sesak napas tapi bisa melahirkan normal. Sepupu aku juga sama, dia lebih parah karena semasa hamil sering banget kambuh sesak nafasnya sampai harus bolak-balik ke rumah sakit untuk di-uap. Tapi alhamdulillah saat proses melahirkan, ia melahirkannya dengan normal. Bayi dan Ibu selamat dan sehat.

Buang jauh-jauh pikiran akan ketakutan melahirkan secara normal bagi perempuan yang mempunyai sesak napas. Kecuali ada komplikasi lain dan dokter menyarankan untuk caesar.

Tidak ada yang tidak mungkin kalau semuanya diserahkan sama Allah. Allah-lah yang Maha berkehendak. Jika Ia berkehendak kita melahirkan secara normal walau pun kita kekurangan secara fisik, semua bisa terjadi.

Subhanallah Walhamdulillah... Allahhu akbar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar